Jumat, 22 Januari 2010

Merajut Pendidikan Berkualitas

Wikimu - bisa-bisanya kita

Marjohan M.Pd

Merajut Pendidikan Berkualitas

Selasa, 29-12-2009 11:10:00 oleh: Marjohan M.Pd
Kanal: Opini

Merajut Pendidikan Berkualitas

Kosa kata “Gap” yang berarti celah atau ketimpangan telah menjadi gangguan hubungan antar individu. Contohnya ada kata gap-communication atau gap- social , kita mengenalnya sebagai ketimpangan hubungan antara golongan yang kaya dengan golongan yang miskin, yang terdidik dan yang tidak terdidik. Kemudian ketimpangan antara orang yang berada di kota dengan orang yang berada di pedesaan.

Ketimpangan atau gap untuk pendidikan di negeri ini adalah dalam bentuk hubungan antara out put sekolah dengan kualifikasi tenaga kerja. Kualitas pendidikan di desa dengan yang di kota, kualitas pendidikan penduduk kaya dengan kualitas penduduk miskin, serta kualitas pendidikan di pulau Jawa dengan kualitas pendidikan di luar Jawa. Gap social tidak perlu kita lestarikan namun harus dicari solusinya.

Banyak orang sependapat bahwa pendidikan bisa menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi ketimpangan yang ada di antara kita. Dewasa ini banyak masyarakat yang telah menyadari akan pentingnya arti membangun diri dan melengkapi diri dengan pendidikan. Dengan cara demikian maka pendidikan bisa menjadi engine of growth- sebagai penggerak dan lokomotif bagi pembangunan diri dan pembangunan bangsa ini.

Idealnya pendidikan yang kita peroleh harus mampu untuk mendorong semangat invention (penemuan hal-hal baru) dan semangat innovasi (melakukan perubahan yang positif). Namun pendidikan yang bagaimana ? Tentu saja pendidikan yang memberikan kreatifitas, kebebasan dan rasa aman dengan menyediakan banyak sarana/ fasilitas- melakukan identifikasi dan eksplorasi atau penjelajahan terhadap peserta didik (siswa-siswi)..

Paradigma pendidikan sekarang ini musti memberi penekanan pada proses learning (belajar) daripada teaching (mengajar) dan murid yang mandiri dalam belajar. Pendidikan yang berfokus pada learning (belajar) tentu bisa membuat anak didik lebih kreatif, apalagi bila mereka dikondisikan untuk melakukan eksplorasi yang banyak. Sementara peran guru sebagai fasilitator musti mampu memberi rasa aman dan kebebasan- tanpa banyak mendikte, mencela dan terlalu mengontrol mereka.

Karena dinamika pendidikan maka sekarang telah ada sekolah yang memberikan pelayanan berkualitas dalam mendidik: memberikan rasa aman dan kebebasan bagi anak didik mereka. Praktek ini tentu saja membuat murid semakin kreatif dan senang melakukan educational exploration. Namun bagi sebahagian sekolah yang lain adakalanya hal ini belum terwujud. Dari pengalaman di lapangan coba lihat tentang perilaku dan tujuan belajar sebahagian siswa-siswinya. Adalah fenomena bahwa banyak mereka yang tujuannya bersekolah adalah untuk memperoleh ijazah, sehingga proses belajar cenderung mereka abaikan karena ijazah lebih penting daripada learning. Ini berarti kerusakan mental bagi mereka. Untuk mencegah banyaknya anak didik yang bermental demikian, belajar hanya demi berharap selembar ijazah, maka diperlukan peran guru, peran sekolah dan peran rumah yang solid. Ini berarti bahwa guru musti berkualitas, kemudian sekolah dan rumah punya kultur dalam mendidik.

Anak yang bagus prestasi belajarnya adalah anak yang berasal dari rumah yang memelihara kultur belajar, maka sebagai konsekuensinya bahwa orang tua perlu membimbing anak. Mereka harus punya kegiatan yang terstruktur di rumah- anak tahu kapan waktu untuk belajar, bermain, dan membantu orang tua. Kemudian mereka suka berdiskusi dengan orang tua, atau orang tua mengajak mereka berdiskusi. Orang tua juga harus punya informasi tentang belajar anak di sekolah, mengetahui bagaimana plus dan minus belajar anak. Anak yang tidak terlatih dan terbimbing seperti kondisi hal di atas tentu akan gagal. Kegagalan juga bisa disebabkan oleh waktu atau kegiatan yang tidak terstrukur, tidak ada dialog tentang pendidikan di rumah atau orang tua yang masa bodoh tentang belajar anak.

Seberapa pentingkah kultur edukasi di sekolah? Untuk memajukan pendidikan maka diperlukan peran guru yang punya kemampuan pada mastery learning, critical thinking, decision making dan communication. Kemudian juga diperlukan guru yang mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi untuk menghadapi perubahan kurikulum. Untuk menjadi guru yang cerdas dengan mastery learning, maka kita perlu pembiasaan otodidak- membiasakan diri dengan konsep long life education. Untuk menjadi kritis maka guru perlu berkomunikasi dan membuka diri.

Kadangkala sekolah bisa ibarat sebuah department store (toko serba ada) yang menyuguhkan barang dagangannya dalam bentuk variasi mata pelajaran- matematika, KWN, olah raga, agama, bahasa, dan lain-lain. Semua mata pelajaran tersebut dapat dikelompokan ke dalam mata pelajaran numerasi dan mata pelajaran literasi. Numerasi berarti mata pelajaran yang berkaitan dengan angka-angka , sementara literasi adalah mata pelajaran yang berhubungan dengan literatur atau bahasa. Memang bahwa pendidikan lama berfokus pada kemampuan verbal (bahasa) dan logika (matematik). Namun sekarang, teori pendidikan yang baru, yang fokusnya adalah untuk pengembangan kemampuan berganda dalam mendidikan anak- multiplied abilityspace, kinestetik, music, intrapersonal, interpersonal, alam, logika dan verbal. dengan penekanan pada pemahaman

Adalah lazim kalau dahulu orang tua menuntut agar jago dengan pelajaran berhitung (matematika) dan menganggap anak sebagai siswa pemalas kalau ternyata lebih suka dengan bola dan kegiatan olah raga. Padahal lewat kegiatan olah raga tersebut sang anak bisa menjadi olahragawan handal, seperti Diego Maradona, Ronaldo, dan lain-lain. Atau sang orang tua mencela anak yang kerjanya menyanyi melulu dan memaksanya untuk mengikuti kursus bahasa Inngris, pada hal kemampuan menyanyi itu bisa mengantarkan anak menjadi presenter dan entertainer yang jitu. Maka untunglah bahwa sekarang pendidikan berpihak pada pengembangan kepintaran berganda anak didik.

Selanjutnya bahwa untuk implikasi pendidikan jangka panjang maka kita perlo mendorong anak untuk mengembangkan basic skil, thinking skill dan personal skill. Basic skill meliputi kemampuan berhitung, berbicara, menulis, mendengar dan kemampuan membaca yang tinggi -counting, speaking, writing, listening, dan reading yang tinggi. Sebagai interprestasi bahwa betapa penting bagi setiap orang tua sejak dini mengajak anak agar bermain-main dengan angka, (Upik …kalau di rumah ini ada lima orang, maka berapa jumlah tangan…?), kemudian juga membudayakan acara kebersamaan untuk membaca dan melakukan bincang-bincang keluarga. Demikian pula halnya bagi sekolah agar bisa menyusun agenda ekskul (ekstra-kurikuler), mungkin merancang kegiatan lomba cerdas cermat, lomba debat dan pidato, serta mengaktifkan koran sekolah dan perpustakaan sekolah.

Untuk thinking skill meliputi kreatifitas, problem solving (pemecahan masalah), dan visualizing (Kemampuan memandang masalah), kemudian personal skillself management atau mengendalikan diri, tanggung jawab, jujur dan socialibility. Implikasinya adalah bahwa guru dan orang tua harus menghargai bentuk fikiran anak. Mereka harus mendengar ekspressi anak sejak usia dini. Tidak tepat lagi dalam acara kebersamaan ayah dan ibu menganggap anak selalu sebagai anak bawang- kehadiran mereka hanya sebagai pelengkap, suara mereka tidak begitu digubris. Juga sangat tepat bila orang tua dan guru menghargai sosial anak, menghargai nilai pergaulan dan kebersamaan mereka. Disini sangat diharapkan pengembangan emosi- emosional quotient atau kecerdasan bergaul anak. meliputi

Tentu saja orang tua dan guru mempunyai peran strategis dalam mengembangkan emosi siswa mereka. Dari gaya kepemimpinan, maka kepemimpinan demokrasi adalah sangat pas dan berkontribusi dalam meningkatkan kehangatan emosi anak. Cara lain untuk meningkatkan EQ (emotional quotient) anak adalah dengan mengkondisikan mereka banyak bergaul. Tentunya pergaulan yang terkontrol (bukan hura-hura dan kongkow-kongkow melulu) dan melakukan aktivitas sosial. Kemudian anak juga perlu melakukan kegiatan dalam bidang olah raga dan kesenian agar bersikap lincah dan energik.

Menjadi siswa yang hebat dalam pandangan pendidikan pada zaman sekarang bukan berarti seorang siswa harus membenamkan kepalanya dalam buku melulu, menghafal rumus-rumus, kalimat per kalimat tanpa melupakan titik dan komanya. Mengajar tidak lagi berarti meringkaskan buku buat anak didik dan mendiktekanya bila sang guru letih dalam mencatatkanya. Selanjutnya dalam proses pembelajaran siswa tidak tepat lagi kalau menjadi penonton dan pendengar melulu.

Namun disinyalir dalam praktek pendidikan masih banyak gaya mengajar si pendidik yang bersifat “CMGA” atau cara mengajar guru aktif dengan gaya murid yang “DDCH” atau duduk, diam, catat dan hafal (Zamroni, 2000:31-32). Seharusnya siswa musti diusahakan dan dikondisikan agar menjadi aktif, karena mereka adalah sebagai pelaku dan pemain dalam pendidikan. Guru sebagai fasilitator dan bukan berarti sebagai sumber ilmu lagi. Sekolah harus sebagai tempat yang menyenangkan dan bukan sebagai tempat yang membosankan. Guru juga musti aktif dan memberikan model dalam kultur edukasi sekolah, anak didik diusahakan berani untuk berbicara- menyampakan gagasan. Motivasi belajar di sekolah tidak tepat lagi sekedar untuk ujian saja, namun musti berfokus pada proses learning.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mencerca dan menjelekan pendidikan negeri sendiri, namun adalah sebagai otokritik. Bahwa sampai detik ini kondisi pendidikan kita apakah di tingkat SLTP, SLTA maupun di tingkat perguruan tinggi masih banyak yang bersifat one way direction, sang dosen paling getol dengan sistem ceramah. Guru-guru di tingkat SLTP dan SLTA dituntut untuk menggunakan berbagai metode pembelajaran. Sementara mereka (para dosen) terkesan bebas dari tuntutan dan bersikap arogan dalam menerapkan model pembelajaran (perkuliahan)yang bercirikan student-centered. Mereka memberi kuliah sesuka mereka tanpa ada yang melakukan supervisi. Pendekatan ini di tingkat SD, SLTP dan SLTA tak dapat merangsang murid untuk belajar keras sehingga daya serap jadi rendah.

Dalam praktek edukasi masih ada yang musti diubah, misal tentang gaya pelayanan. Coba lihat gaya kepemimpinan di sekolah, masih ada kepemimpinan kepala sekolah dengan gaya komando, guru yang terlalu dominan dan siswa yang kurang aktif. Fokus sekolah selalu nilai/ NEM dan sedikit agak mengabaikan aspek proses. Maka ini harus diubah menjadi gaya kepala sekolah dengan managemen berbasis sekolah, menghargai kreativitas guru tidak perlu lagi dominan, karena mereka bukanlah sumber belajar, kecuali hanya sebagai fasilitator dan motivator. Eksistensi NEM dan nilai tidak perlu dibesar-besarkan kalau itu hanya bersifat instan dan rekayasa. Proses pembelajaran atau learning musti dipandang sebagai pokok dari edukasi. Individual learning telah menghasilkan siswa yang berotak, namun yang lebih tepat sekarang adalah cooperative learning yang menghasilkan siswa yang berotak dan berhati, bagus IQ nya dan mantap EQ nya. Untuk menyonsong pendidikan yang berkualitas maka kuncinya adalah tentu kultur edukasi dengan merajut pendidikan yang juga berkualitas.

(Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar, juga penulis buku School Healing Menyembuhkan Problem Sekolah).. .

(Catatan: Zamroni (2000). Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing).

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-5260758 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)

COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY

Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan

Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan PDF Print E-mail
Written by Administrator
Saturday, 02 August 2008 05:03

VISI

Jurusan Teknik Industri Itenas, menjadi penyelenggara pendidikan tinggi yang unggul di tingkat nasional mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi industri dan berperan aktif dalam pengembangan keilmuan Teknik Industri.

MISI

  • Menyelenggarakan pendidikan Teknik Industri berbasis sistem manufaktur untuk menghasilkan lulusan yang mampu melakukan perancangan, instalasi dan perbaikan sistem integral yang terdiri dari manusia, material, peralatan, informasi dan sumber daya lainnya.
  • Melaksanakan kegiatan penelitian dalam bidang Teknik Industri yang dapat memberikan manfaat pada pengembangan keilmuan dan teknologi.
  • Melaksanakan kegiatan pengabdian pada masyarakat dalam bidang Teknik Industri sebagai wujud peran serta dalam peningkatan kinerja masyarakat.
  • Menghasilkan lulusan sarjana Teknik Industri yang beretika dan profesional dalam lingkup industri manufaktur dan jasa.

TUJUAN PENDIDIKAN

  • Memberikan pemahaman dan pengetahuan dalam bidang matematika, sains dasar, ilmu sosial, ekonomi dan prinsip enjinering sebagai dasar kemampuan analisis dan perancangan dalam bidang Teknik Industri.
  • Memberikan pengetahuan dan kemampuan dalam menggunakan teknik dan keterampilan untuk melakukan perencanaan, perancangan, instalasi, perbaikan dan pengoperasian sistem integral.
  • Membentuk kemampuan profesional dalam bidang Teknik Industri dan memberikan wawasan kewirausahaan.
  • Menumbuhkan kesadaran untuk selalu meningkatkan pengetahuan.

Powered by ITENAS!.

TUJUAN PENDIDIKAN YANG SESUNGGUHNYA

"SELAMAT DATANG DI BLOG ORANG BERPENDIDIKAN,BICARA TENTANG BANYAK HAL DAN BERBAGAI MACAM HAL**********WELCOME TO ORANG BERPENDIDIKAN BLOG, TALKING ABOUT MORE TOPICS AND MANY KINDS OF TOPIC"

Monday, April 2, 2007

TUJUAN PENDIDIKAN YANG SESUNGGUHNYA

Seseorang disekolahkan oleh orang tuanya tentu agar menjadi seseorang yang cerdas dan berperilaku baik.
Itu adalah tujuan diadakannya pendidikan di negara indonesia, yaitu Taqwa, Cerdas dan Terampil.
Dengan tujuan ini sudah seharusnyanya seseorang yang telah memasuki dunia pendidikan harus berbeda dengan orang yang belum pernah mengenyam pendidikan. Perbedaan itu tentu harus terlihat dari ketaqwaan, kecerdasan dan ketrampilannya. Manakala tidak ada perbedaan apalah artinya pendidikan baginya.

Semakin tinggi pendidikan seseorang, dari sisi ketaqwaan maka dia harus lebih bertaqwa. Mengapa? Karena semakin tinggi pendidikan berarti dia semakin tau tentang hal yang baik dan yang buruk, mana yang jahat dan tidak jahat. Kalau dia tidak semakin taqwa, dia pasti akan menjadi seseorang yang sombong, angkuh karena telah mampu mengenyam pendidikan yang tinggi. Dari sisi perasaan seseorang yang berpendidikan tinggi pasti lebih egois dan kurang menghargai perasaan orang lain jika tujuan taqwa ini tidak ada padanya. Karena dengan peningkatan ketaqwaan ini seseorang akan lebih santun, berakhlak mulia dan dapat menghargai perasaan sesama, tentunya dengan pengetahuan yang dia miliki.
Kemudian seseorang yang berpendidikan pasti menjadi lebih cerdas. Ini menjadi tujuan utama orang tua memasukkan anaknya untuk masuk dunia pendidikan. Terkadang orang tua lupa bahwa ketaqwaan adalah modal utama untuk hidup (sisi rohani). Orang yang cerdas tidak bertaqwa dia akan menjadikan kecerdasannya untuk mengbohongi orang lain, dan hal negatif lainnya.

Demikian pula keterampilannya, kalau dia tidak bertaqwa ketampilannya akan digunakan untuk menjahili orang lain. Contohnya banyak orang yang karena kepandaiannya dia kirim virus komputer ke user lain. Ada juga yang terampil membuat bom untuk teror.
Disisi lain memang tak mudah menciptakan generasi yang bertaqwa. Lebih mudah menciptakan generasi yang cerdas dan terampil daripada menciptakan generasi yang bertaqwa. Tetapi paling tidak untuk meminimalkan seseorang yang cerdas menjadi jahat. Kita semua pasti setuju kejahatan tidak akan pernah hilang dimuka bumi, tapi apakah kita harus menyerah? Tidak. Manusia diwajibkan untuk menyerukan kebaikan dan menjauhi kejahatan oleh Tuhan. Jika itu sudah kita lakukan maka hasil akhirnya kita serahkan kepada Tuhan. Kita telah berusaha dan tak pernah lelah menyeru untuk kebaikan.
Orang tua dan guru harus bisa menjadi teladan dalam hal ketaqwaan bagi anak/ anak didiknya.
Disini pentingnya ketiga tujuan diatas agar benar-benar di tanamkan pada anak didik sejak taman kanak-kanak. Meninggalkan salah satunya menyebabkan kehidupan tidak seimbang.

Sebagai Contoh di bawah ini !!

A. TUJUAN UMUM PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM

Sadar akan tanggung jawab sebagai warga Negara Indonesia, yang mengabdi dalam bidang pelayanan kesehatan, serta mengerti dan merasakan tuntutan masyarakat dan program pemerintah untuk meningkatkan taraf kesehatan rakyat, maka Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Umum bertujuan menghasilkan Dokter Spesialis Bedah Cendikiawan yang :

1. Berperilaku sesuai dengan Kode Etik Kedokteran Indonesia
2. mampu mengatasi masalah penyakit bedah darurat dan bedah elektif sesuai
kopentensi ( pengetahuan dan keterampilam ) yang di dapat selama pendidikan.
3. Mampu mengembangkan diri ( KAP ) sebagai dokter spesialis bedah sesuai
dengan tuntutan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu bedah invasive

minimal.
4. Mampu mengenal masalah bedah di masyarakat dan menyelesaikannya melalui
penaganan langsung maupun melalui suatu penelitian.
5. Mampu berkomunikasi dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris dalam
mengemukankan pendapat dan hasil karya selama dalam menjalankan
profesinya, termasuk berkomunikasi dengan penderita.

B. TUJUAN KHUSUS PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS ILMU BEDAH

Pendidikan dokter spesialis ilmu bedah ialah setelah melalui proses pembelajaran menurut suatu kurikulum akan menghasilkan dokter spesialis bedah yang :
1. Mempunyai rasa tanggung jawab dalam pengamalan ilmu kesehatan sesuai
dengan kebijakan pemerintah berdasarkan Pancasila.
2. Mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidang ilmu bedah, serta
mempunyai keterampilan dan sikap yang baik sehingga sanggup memahami
dan memecahkan masalah kesehatan secara ilmiah dan dapat mengamalkan
ilmu kesehatan kepada masyarakat yang sesuai dengan bidang ilmu bedah secara optimal.
3. Mampu menetukan, merencanakan dan melaksanakan pendidikan bedah dan
pelatihan secara mandiri dan mengembangkan ilmu bedah ke tingkat akademik yang lebih tinggi.
4. Mampu mengembangkan sikap pribadi sesuai dengan etik ilmu dan profesii bedah

C. TUJUAN INSTRUKSIONAL PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS BEDAH

Tujuan instruksional di susun menurut paket pendidikan yang menunjang kemampuan dokter spesialis bedah umum secara koprehensif. Materi setiap paket senantiasa mengacu kepada tujuan umum dan tujuan khusus pendidikan dokter spesialis bedah.
Pokok bahasan setiap paket pendidikan disusun berdasarkan penyakit atau berdasarkan masalah yang dikembangkan menjadi tujuan instruksional umum ( TIU ) dan selanjutnya diuraikan dalam bentuk kompetensi menjadi sasaran belajar yang disusun sedemikian rupa merupakan tujuan perilaku khusus ( TPK ).
Sebagai pedoman kedalaman dan keluasan sasaran belajar dipakai taksonomi ranah kognitif, psiko-motor dan elektif. Pada dasar


TAQWA CERDAS DAN TERAMPIL

PENGEMBANGAN SPEKTRUM PENDIDIKAN KESETARAAN

Pengembangan spektrum pendidikan kesetaraan
Saturday, 5 September 2009

Pendidikan Kesetaraan merupakan suatu bentuk realisasi dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pasal 13 ayat (1) yang menyatakan bahwa salah satu jalur pendidikan adalah pendidikan nonformal.

PENGEMBANGAN SPEKTRUM PENDIDIKAN KESETARAAN

Oleh : Dra. IVO YANI


Dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan nasional telah ditetapkan visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Adapun visi pendidikan nasional adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Sistem pendidikan nasional tersebut diharapkan berlaku bagi semua peserta didik, baik peserta didik usia sekolah maupun orang dewasa yang karena suatu sebab tidak berkesempatan mengikuti pendidikan formal.

Pendidikan Kesetaraan merupakan suatu bentuk realisasi dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pasal 13 ayat (1) yang menyatakan bahwa salah satu jalur pendidikan adalah pendidikan nonformal. Di samping itu pasal 26 ayat (6) UUSPN tersebut menyatakan bahwa hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil pendidikan formal setelah melalui proses penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan. Seiring dengan perkembangan pendidikan nonformal, pendidikan kesetaraan mengalami beberapa fase perkembangan antara lain:

1. Tahun 1991-2000 pengembangan Paket A, dan Paket B dengan hasil ujian nasional pertama untuk Paket A setara SD/MI dan Paket B setara SMP/MTs;

2. Tahun 2001 pelaksanaan ujian nasional Paket C setara SMA/MA;

3. Tahun 2003 pendidikan kesetaraan dicantumkan dalam Undang-undang Sisdiknas. Hasilnya pendidikan kesetaraan Paket A dan Paket B menyukseskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dan peserta ujian nasional Paket C meningkat sampai 50%. Untuk mendukung program tersebut diselenggarakan pelatihan tutor dan master training.

4. Tahun 2004 pengesahan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan perluasan akses lintas departemen hasilnya pengintegrasian kurikulum kecakapan hidup, pengembangan Paket B plus voucher untuk pemuda penganggur dan perjanjian kesepakatan (MoU) dengan Departemen Pertanian, Departemen Agama, Departemen Kelautan, Departemen Kehakiman dan HAM.

5. Tahun 2005 sampai 2008 diarahkan pada pendidikan kesetaraan, dengan menyelenggarakan proses pembelajaran yang berorientasi terhadap pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dengan tiga pendekatan yaitu : materi ajar yang bermuatan literacy dan life skill dengan pengorganisasian materi secara tematik, proses pembelajaran yang bersifat induktif dan penilaian kompetensi.

Pendidikan kesetaraan berfungsi menguatkan (reinforcement) kreativitas dan produktivitas yang telah menyatu dan berkembang pada diri setiap peserta didik melalui pembelajaran kecakapan hidup. Pelaksanaan pendidikan kesetaraan perlu dikembangkan sejalan dengan tuntutan perkembangan kebutuhan masyarakat dan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia. Hal itu dapat dilakukan melalui pengembangan spektrum pendidikan kesetaraan. Spektrum pendidikan kesetaraan adalah suatu program yang menggambarkan kegiatan pendidikan bermuatan akademik, vicational skill, dan terintegrasi keduanya yang didasarkan pada kebutuhan sasaran. Spektrum pendidikan kesetaraan membuka jalan menuju pendidikan berbasis pengetahuan (knowledge base) dan berbasis ekonomi (economy base).

Berdasarkan pemahaman sejarah perkembangan program pendidikan kesetaraan, maka Direktorat Pendidikan Kesetaraan mengembangkan 3 (tiga) spektrum pendidikan kesetaraan yaitu: (1) Kesetaraan Murni Akademik (KMA), diselenggarakan bagi mereka yang hanya membutuhkan kompetensi akademik dan memperoleh ijazah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Spektrum ini cocok untuk peserta didik usia sekolah dan dalam kerangka penuntasan program wajar dikdas 9 tahun. Secara operasional spektrum ini diselenggarakan melalui pola transformasi pembelajaran akademik dengan pilihan sistem reguler, terbuka, dan akselerasi. (2) Kesetaraan Integrasi Keterampilan (KIK), menyajikan dua menu sekaligus, dan ini merupakan model paling ideal dalam implementasi spektrum pendidikan kesetaraan. Hal ini dapat diselenggarakan bagi mereka yang membutuhkan kompetensi akademik dan juga membutuhkan kompetensi keterampilan (vokasi) dan kepribadian untuk kehidupan sehari-hari dan atau memperoleh pekerjaan serta bekerja/berusaha mandiri. Peserta didik dapat memperoleh ijazah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu mereka juga dapat memperoleh sertifikat kompetensi keterampilan tertentu. Spektrum ini diselenggarakan melalui transformasi pembelajaran akademik yang terintegrasi keterampilan dengan pilihan sistem reguler dan akselerasi. (3) Kesetaraan Murni Keterampilan (KMK), diselenggarakan bagi mereka yang hanya membutuhkan kompetensi keterampilan dan kepribadian untuk persiapan bekerja pada dunia usaha dan dunia industri (DUDI) atau berusaha mandiri. Ini memungkinkan bagi peserta didik pendidikan kesetaraan yang telah menyelesaikan pembelajaran akademik dengan sistem akselerasi atau peserta didik yang telah menyelesaikan pembelajaran akademik di jalur pendidikan formal kemudian pindah jalur ke pendidikan kesetaraan. Spektrum ini diselenggarakan melalui transformasi pembelajaran keterampilan dengan sistem reguler berdasarkan standar kompetensi keterampilan yang dipilih.

Ketiga spektrum tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:


Dengan mempertimbangkan kondisi umum yang terjadi di lapangan, maka perlu dikembangkan komponen-komponen program pendidikan kesetaraan dalam ketiga spektrum berikut:

KOMPONEN PROGRAM PENDIDIKAN KESETARAAN

Spektrum

Tujuan

Sasaran

Kurikulum

Bahan Ajar

Pendidik

Hasil

Kesetaraan Murni Akademik (KMA)

Peningkatan kualitas akademik

Usia wajar Pegawai lainnya

80% akademik 20% keterampilan

Modul mata pelajaran

Modul KF-KP sesuai KTSP

Tutor mata pelajaran dan keterampilan

Peserta didik berijazah

Kesetaraan Integrasi Keterampilan (KIK)

Peningkatan kualitas akademik dan kompetensi kerja

Usia wajar

Usia dewasa

50% akademik

50% keterampilan

Modul tematik

Modul KF-KP sesuai KTSP, Modul keteram-pilan sesuai kebutuhan

Fasilitator pembelajaran dan instruktur keterampilan serta tutor pembelajaran

Peserta didik ber-ijazah & bersertifi-kat kom-petensi

Kesetaraan Murni Keterampilan (KMK)

Peningkatan kompetensi kerja

Lulus/ berijazah:

Paket B

Paket C

20% akademik

80% keterampilan

Modul keteram-pilan merujuk pada standar kompetensi khusus, nasional, dan internasional

Instrukur keterampilan dan training provider

Berserti-fikat kompe-tensi dan bekerja

Ketiga pola pendidikan kesetaraan di atas diharapkan dapat membawa perubahan mendasar pada program kesetaraan. Kalau pada awalnya pola kesetaraan hanya bertujuan menghasilkan lulusan Paket A, B, dan C, yang setara dengan SD, SLTP, dan SLTA tanpa memperhatikan keberadaan masing-masing peserta didik, dengan pola yang baru diharapkan setiap Paket A, B, dan C, harus memiliki kebisaan yang siap bersaing dengan lulusan sendiri maupun sekolah yang setara dari sekolah formal.

Berdasarkan uraian di atas, maka pendidikan kesetaraan Paket A adalah 100% menunjang kelulusan, dan termasuk di dalamnya disinggung pengenalan kebisaan. Program Paket B perbandingannya adalah 50% kecakapan akademik dan 50% kecakapan keterampilan, artinya 50% proses pembelajaran menunjang kebisaan yaitu menyiapkan peserta didik dengan kebisaan dasar sebagai bekal untuk bekerja dan atau melanjutkan pendidikan pada Paket C keterampilan. Pendidikan kesetaraan program Paket C1 diberikan keluasan pada porsi akademik yaitu perbandingannya 80%:20%, C2 perbandingannya adalah 50% akademik dan 50% keterampilan. Sedangkan spektrum pendidikan kesetaraan C3 lebih diutamakan dan difokuskan pada keterampilan sehingga perbandingan kecakapan akademik dengan keterampilan adalah 20%:80%. Penempatan peserta didik pada jenjang dan jenis spektrum pendidikan kesetaraan bergantung kepada hasil tes penempatan. Secara ringkas dapat dijelaskan, bahwa pola pendidikan Paket A, B, dan C menitikberatkan pada penguasaan ilmu dan pengetahuan serta kebisaan khusus untuk bermata pencaharian, dengan harapan apabila seorang peserta didik menyelesaikan Paket A, B, dan C, mereka sudah langsung memiliki mata pencaharian tanpa menggantungkan diri pada yang lain.

Pendidikan Kesetaraan dengan tiga spektrum, memiliki target bahwa pada permulaan tahun 2009 akan dilaksanakan 2 (dua) spektrum yaitu spektrum Paket B 50% pengetahuan dan 50% kebisaan, dan Paket C dengan 20% pengetahuan dan 80% kebisaan, tanpa menghiraukan kelulusan namun mereka bisa masuk dunia kerja. Sedang spektrum Paket A akan dilaksanakan secara pelan namun meyakinkan, karena Paket A akan dilaksanakan dengan model bukan untuk mata pencaharian meskipun pada akhirnya akan mengarah kepada bermata pencaharian. Pada permulaan tahun 2009, diharapkan akan dapat dimulai Paket A, B, dan C dengan 2 spektrum. Dengan pola ini diharapkan paket A, B, dan C tidak akan menghasilkan lulusan yang pandai saja melainkan lulusan yang pandai dan kreatif.

DAFTAR PUSTAKA:

Direktorat Pendidikan Kesetaraan. 2009. Executive Summary Spektrum Pendidikan Kesetaraan. Jakarta.

Permendiknas RI No. 3 Tahun 2008 Tentang Standar Proses Pendidikan Kesetaraan.

UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

ARTI PENTING HARI PAHLAWAN




BLOGS WRITE NEW BLOG EDIT BLOGS
RSS
MENGHAYATI ARTI PENTING HARI PAHLAWAN
Posted On 26/11/2009 14:02:14 by Andi_sugara


MENGHAYATI ARTI PENTING
HARI PAHLAWAN

(Oleh : A. Umar Said)

Tidak lama lagi, bangsa kita akan merayakan Hari Pahlawan 10 November. Sekarang ini, ketika bangsa kita sedang menghadapi angka pengangguran paling sedikitnya 38 juta (Tempo Interaktif 1 Nov), dan utang luarnegeri dan dalamnegeri begitu besar, apakah masih perlu kita repot-repot mengadakan peringatan Hari Pahlawan 10 November? Dan, juga, ketika hiruk-pikuk tentang terorisme sedang melanda seluruh negeri, apa pula gunanya memperingati Hari Pahlawan? Bukankah lebih baik kalau perhatian kita dicurahkan kepada pemberantasan korupsi, yang sudah jelas-jelas mendatangkan kerusakan parah di bidang moral, dan menyebabkan kerugian begitu besar kepada negara dan rakyat? Apakah peringatan Hari Pahlawan masih ada artinya, ketika persatuan dan kesatuan bangsa kita sedang dikoyak-koyak oleh berbagai sentimen negatif kesukuan dan dikotori pertentangan agama? Kiranya, masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang bisa diajukan tentang pentingnya memperingati Hari Pahlawan ini.

Kepada mereka yang masih mempertanyakan arti penting peringatan Hari Pahlawan, kiranya perlu – dengan sabar, namun tegas - dijawab : Sangat perlu, karena amat penting!!! (tanda seru tiga kali). Justru karena situasi negara dan bangsa sudah begini bobrok dewasa ini, maka kita semua perlu mengangkat tinggi-tinggi jiwa agung dan revolusioner yang terkandung dalam Hari Pahlawan. Namun, supaya lebih jelas lagi, perlu pula ditegaskan bahwa Hari Pahlawan ini harus kita rayakan dengan cara-cara dan semangat yang baru, yang berbeda dengan yang selama ini dilakukan oleh Orde Baru (beserta para pendukungnya).


ORDE BARU MEMBUNUH API HARI PAHLAWAN

Dalam kaitan ini, mohon marilah sama-sama kita renungkan dalam-dalam yang berikut ini : apakah kultur politik dan kultur moral (dan pendidikan) Orde Baru betul-betul menghayati sungguh-sungguh dan menghormati Hari Pahlawan? Mengingat pengalaman selama puluhan tahun Orde Baru, kita patut meragukannya! Memang, Hari Pahlawan telah selalu dirayakan selama itu. Namun, tanpa apinya. Tanpa jiwa keagungannya. Selama puluhan tahun Orde Baru, Hari Pahlawan kebanyakan hanya diperingati dengan upacara-upacara yang bersifat ritual, yang kerdil jiwanya dan miskin pula isinya..

Tidak bisa lain! Sebab, pada hakekatnya, atau pada intinya, Hari Pahlawan adalah berjiwa revolusioner. Hari Pahlawan mengandung patriotisme dan nasionalisme yang tinggi. Hari Pahlawan adalah sarat dan dengan bobot semangat pengabdian kepada kepentingan rakyat. Hari Pahlawan mencerminkan kerelaan berkorban demi kepentingan nusa dan bangsa. Hati Pahlawan mengandung moral yang agung. Hari Pahlawan juga menyampaikan pesan besar yang terkandung dalam Sumpah Pemuda, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila; Justru itu semualah yang tidak dimengerti oleh para pendiri (dan pendukung setia) Orde Baru. Bahkan, yang telah dirusak atau dikhianatinya!!! (sekali lagi, tanda seru tiga kali)

Supaya tidak jatuh dalam rumusan yang terdengar muluk-muluk dan generalisasi dangkal, maka perlulah kiranya kita semua berusaha menyimak kembali sejarah lahirnya Hari Pahlawan. Sejarah lahirnya Hari Pahlawan tidak bisa dipisahkan dari peran sejarah Bung Karno, dari kehebatan perjuangan revolusioner rakyat Indonesia di seluruh negeri dalam tahun 45, dan juga tidak bisa dipisahkan dari sejarah pertempuran Surabaya. Yang perlu dicatat juga adalah bahwa Hari Pahlawan ada kaitannya dengan usul Sumarsono kepada Bung Karno dalam tahun 1945 untuk menjadikan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Sumarsono adalah; waktu itu, pimpinan tertinggi gerakan PRI (Pemuda Republik Indonesia) yang mempunyai peran penting (dan terutama) semasa pembrontakan rakyat Surabaya untuk merampas senajata Jepang dan kemudian bertempur secara besar-besaran dan heroik melawan pasukan-pasukan Inggris (dan Belanda).


HARI PAHLAWAN ADALAH BERJIWA REVOLUSIONER

Adalah penting dalam menghayati arti Hari Pahlawan, kita semua mencermati bahwa Bung Karno adalah satu di antara sejumlah tokoh-tokoh besar bangsa Indonesia yang paling menonjol (dan paling banyak!) dalam mengangkat arti para pahlawan dalam perjuangan pembebasan bangsa. Ini tercermin dalam banyak halaman buku beliau “Di bawah Bendera Revolusi”, dan juga dalam pidato-pidato beliau. Bung Karno menjadikan Hari Pahlawan sebagai sarana untuk mengingatkan . kepada seluruh bangsa (terutama angkatan muda) bahwa sudah banyak pejuang-pejuang telah gugur, atau mengorbankan harta-benda dan tenaga mereka, untuk mendirikan negara RI. Mereka rela berkorban, supaya kehidupan rakyat banyak bisa menjadi lebih baik dari pada yang sudah-sudah. Mereka berjuang dalam tahun-tahun 20-an, dan selama revolusi kemerdekaan 45, untuk menjadikan negara ini milik bersama, guna menciptakan masyarakat adil dan makmur.

Jadi, menghayati secara benar-benar Hari Pahlawan adalah berarti menghubungkannya dengan revolusi bangsa. Dan seperti yang sudah ditunjukkan oleh sejarah kita, revolusi bangsa Indonesia adalah pluralisme revolusioner. Dalam perjalanan jauh (long march) yang berliku-liku ini berbagai tokoh golongan masyarakat ( dari berbagai suku, keturunan, agama dan aliran politik) telah menyatukan diri dalam barisan panjang revolusioner kita.

Dengan latar-belakang pandangan sejarah yang demikian itu pulalah kiranya kita bisa mengerti mengapa Bung Karno menerima usul Sumarsono untuk menjadikan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Sedangkan Sumarsono sendiri, yang menjadi pimpinan tertinggi PRI di Surabaya waktu itu, adalah seorang pemuda yang masa kecilnya mendapat pendidikan Kristen, dan setelah besar mempunyai hubungan erat dengan gerakan di bawah tanah PKI. melawan kolonialsime Belanda dan fasisme Jepang (lewat jaring-jaringan Mr; Amir Syarifuddin, pelukis Sudjoyono, tokoh PKI Widarta dan lain-lain)..

Dari ketinggian pandangan revolusioner yang demikian itulah kita sepatutnya memandang arti penting Hari Pahlawan. Jadi, tidak cukup hanya dengan pengibaran bendera dan nyanyi--nyanyian atau pidato-pidato yang isinya kosong atau steril saja Upacara-upacara memang tetap perlu dikerjakan, namun yang lebih penting adalah memberi isi dan jiwa kepada hari keramat ini.


PARA PAHLAWAN MENANGIS DALAM MAKAM

Dewasa ini, memperingati Hari Pahlawan dengan semangat baru, cara baru, pandangan baru, adalah penting. Sebab, kita sama-sama menyaksikan bahwa selama Orde Baru, keagungan jiwa revolusioner Hari Pahlawan yang dicetuskan oleh Bung Karno telah dibikin mandul atau kerdil. Pastilah para pahlawan kita dari berbagai angkatan, berbagai suku, berbagai agama dan aliran politik, menangis sedih dalam makam mereka, melihat keadaan bangsa dan negara kita yang seperti sekarang ini. Bukanlah bangsa dan negara yang macam sekarang ini yang mereka cita-citakan ketika mereka bersedia mengorbankan diri dalam berbagai medan perjuangan, termasuk dalam pertempuran-pertempuran di seluruh tanahair.

Sebagai produk kultur politik dan kultur moral Orde Baru kerusakan dan pembusukan melanda di seluruh lini, baik di bidang eksekutif, legislatif dan judikatif, termasuk di kalangan agama. Banyak tokoh-tokoh politik, pemuka masyarakat dan pejabat yang benar-benar sudah menjadi penjahat dan pengkhianat rakyat. Banyak di antara mereka sudah tidak peduli lagi terhadap kepentingan publik. Mereka menghalalkan segala cara untuk mencuri milik negara dan rakyat. Mereka tidak segan-segan menggunakan dalil-dalil dan kedok agama untuk menimbulkan perpecahan, dan menyebar benih-benih kerusuhan.


TUGAS ANGKATAN MUDA

Mengingat situasi yang begini buruk dewasa ini (ingat : dampak peristiwa bom di Bali, hubungan internasional yang memburuk, investasi yang menurun, utang yang makin menggunung, pengangguran yang makin membengkak, pelecehan terus-menerus terhadap hukum dan HAM, korupsi yang tetap merajalela) , adalah kewajiban moral angkatan muda dari berbagai golongan, keturunan, suku, agama, dan aliran politik untuk menjadikan jiwa Hari Pahlawan.sebagai senjata guna berjuang melawan pembusukan besar-besaran ini. Sebab, kelihatannya, kita sudah tidak bisa menaruh harapan lagi kepada berbagai angkatan yang telah ikut mendirikan Orde Baru, dan juga yang merupakan produk (didikan) kultur buruk ini.

Jiwa yang sudah pernah dimanifestasikan oleh angkatan muda secara gemilang dalam tahun 1998 dalam menumbangkan kekuasaan Suharto, perlu dipupuk dan dikobarkan terus, dalam bentuk-bentuk baru, sesuai dengan perkembangan situasi. Dalam perlawanan terhadap Orde Baru telah jatuh korban-korban. Mereka adalah bagian dari sederetan panjang pahlawan, yang kebanyakan tidak dikenal. Karena telah mengorbankan diri untuk melawan sistem politik dan kediktatoran yang telah membikin banyak kerusakan parah terhadap bangsa dan negara selama puluhan tahun, maka sudah sepatutnyalah bahwa mereka kita pandang sebagai pahlawan pendobrak Orde Baru.

Hari Pahlawan harus sama-sama kita kembalikan kepada peran (dan pesannya) yang semestinya. Ini adalah tugas utama bangsa kita, termasuk dari kalangan pendidikan dan sejarawan. Angkatan muda harus dididik untuk menghayati benar-benar semangat pengabdian kepada rakyat dan pengorbanan diri demi kepentingan nusa dan bangsa. Kalangan sejarawan (dan pendidikan) perlu sekali meninjau kembali buku-buku sejarah dalam sekolah-sekolah, sehingga generasi muda kita mengenal sejarah bangsa secara benar (ingat : pemalsuan yang memblingerkan : serangan 1 Maret dan pendudukan 6 jam di Jogya oleh Suharto dan pemalsuan-pemalsuan sejarah lainnya).

Bangsa yang besar menghargai para pahlawannya. Bangsa Indonesia pernah dipandang besar oleh bangsa lain di dunia, terutama oleh rakyat-rakyat di Asia, Afrika dan Amerika Latin, berkat perjuangannya melawan kolonialisme dan imperialisme ( mohon dicatat antara lain : revolusi 45, Konferensi Bandung, Konferensi Pengarang Asia-Afrika, Konferensi Wartawan Asia-Afrika, Ganefo, Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Aaing).

Sekarang ini, negeri kita Indonesia sedang terpuruk citranya di dunia. Sekali lagi, bukan negeri yang macam beginilah yang dicita-citakan oleh ratusan ribu (bahkan mungkin jutaan) pahlawan kita, yang dalam barisan panjang dan berliku-liku telah berbondong-bondong bersedia mengorbankan diri, demi kita semua dan demi anak-cucu kita.

Dengan tekad bersama untuk menjunjung tinggi-tinggi semangat revolusioner dalam mengabdi kepada kepentingan rakyat, marilah kita sambut peringatan Hari Pahlawan !

Tags: MENGHAYATI ARTI PENTING HARI PAHLAWAN

Kamis, 21 Januari 2010

SOSOK PAHLAWAN MEMBERIKAN SEMANGAT PENDIDIKAN



APAKAH PAHLAWAN SUDAH HABIS?

Tante Paku's picture

SEBUAH negara memerlukan pahlawan yang mampu memberi semangat untuk berkarya membangun bangsa. Dulu ada pahlawan di negri ini tatkala memperjuangkan kemerdekaan dalam mengusir penjajah. Penjajah yang ingin mengangkat kekayaan bangsa ini untuk dibawa ke negerinya. Kekayaan negri ini dikuras dengan keras tanpa memperdulikan penduduk asli yang menderita, miskin dan mati tanpa jati diri.

Ketika penjajah berhasil diusir keluar dari negri ini dengan sederet nama pahlawan yang tercatat dalam buku sejarah sebagai bukti bakti kepada negri ini, lantas apakah masih ada pahlawan yang diperlukan dalam era kemerdekaan ini?

Rakyat tentu masih memerlukan pahlawan, bukan sosok pahlawan yang menyandang senjata lengkap dan gagah perkasa layaknya tokoh hero yang mampu menghabisi musuhnya dengan sekali gebrak, melainkan sosok pahlawan yang mampu membela mereka dari hidup yang terlunta-lunta di negri sendiri.

Masih banyak rakyat yang walau bebas hidup di negara ini, namun sering dipotong oleh kemiskinan, oleh kurangnya pendidikan, oleh diskriminasi, oleh orang-orang yang kurang peka.

Banyak anak cucu pahlawan bangsa ini tidak meniru semangat orangtuanya yang gigih mengusir penjajah demi kemerdekaan untuk mengelola negara sendiri, tetapi justru meminta tanda jasa kepada negara akan kepahlawanan orangtuanya. Kekayaan, kedudukan menjadi tujuannya demi ambisi tanpa perduli lagi cita-cita besar para pahlawan dulu, yakni menciptakan negri adil makmur untuk semua warganya.

Ketika mempunyai kedudukan tinggi, gambar para pahlawan hanya sebagai penghias dinding atau bahkan disimpan di gudang, agar bisa punya nyali untuk bekoar. Mereka yang kaya berhak mencibir yang miskin, kelebihan hartanya dipakai sebagai senjata penghinaan. Kekuasaannya bersandiwara sebagai pengayom masyarakat, pengarah, pemandu, penuntun dan predikat senada yang bersifat membantu dan melindungi namun juga bisa melakukan ancaman bila masyarakat itu tidak menuruti kehendaknya.

Dalam era kemerdekaan dan terus melakukan pembangunan di segala bidang ini, masih belum tampak adanya pahlawan yang berani maju melawan para penguras harta kekayaan bangsa ini. Musuh baru para pahlawan sekarang ini adalah para PENYELEWENG, para KORUPTOR. Merekalah yang menguras harta kekayaan negri ini. Dulu mengusir penjajah, sekarang harusnya memberantas para koruptor itu.

Mereka yang berani memberantas para koruptor itu jadi pahlawan, karena dengan hilangnya koruptor, pertumbuhan ekonomi bisa lebih cepat. Kalau tidak diambil para koruptor, uang negara ini bisa dimanfaatkan untuk investasi pada bidang-bidang yang menyerap tenaga kerja. Karena korupsi itu menciptakan kesenjangan ekonomi. Koruptor bisa semakin kaya, sementara rakyat semakin miskin, karena tidak bisa korupsi.

Perlu dipahami bahwa korupsi itu tidak menyangkut uang saja, bisa menyangkut pendidikan, kebudayaan, ekonomi, jasa, hukum atau teknologi. Karena korupsi adalah suatu tindakan yang melanggar peraturan demi keuntungan diri sendiri.Lihat saja kasus yang lagi hangat di negri ini, pengadilan bisa dipengaruhi oleh uang.

Apakah pahlawan sudah habis? Rakyat berhak bertanya, tentu bukan bermaksud menghakimi, walau punya hak untuk melakukannya. Pahlawan tidak harus memenangkan perang dengan senjata hebat, tetapi pahlawan yang bisa memberi damai sejati melalui usaha untuk saling mengerti satu sama lain. Para pemimpin harus melakukan banyak usaha agar ada pengertian, saling peduli, mengakui perbedaan dan kesalahan, menghormati hak rakyat dan berusaha mencapai kesatuan.

Para pemimpin yang ingin menjadi pahlawan harus bisa menjalankan sistem nilai yang benar, agar tidak terjadi korupsi, tidak ada kesenjangan, tidak ada keresahan, membuat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi dengan lebih cepat.

Semoga Bermanfaat Walau Tak Sependapat

FILOSOFI TENTANG PENDIDIKAN

Filosofi pendidikan

Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup.

Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.

Banyak orang yang lain, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya."

Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam -- sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka -- walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

[sunting] Pendidikan di Indonesia

Wikisource
Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan UU No. 20 Tahun 2003

[sunting] Jenjang pendidikan

Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

[sunting] Pendidikan anak usia dini

Mengacu Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 Butir 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

[sunting] Pendidikan dasar

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

[sunting] Pendidikan menengah

Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.

[sunting] Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialisperguruan tinggi. yang diselenggarakan oleh

[sunting] Jalur pendidikan

Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

[sunting] Pendidikan formal

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

[sunting] Pendidikan nonformal

Pendidikan nonformal paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap mesjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua gereja.

Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya. Program - program PNF yaitu Keaksaraan fungsional (KF); Pendidikan Kesetaraan A, B, C; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD); Magang; dan sebagainya Lembaga PNF yaitu PKBM, SKB, BPPNFI, dan lain sebagainya.

[sunting] Pendidikan informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.

[sunting] Jenis pendidikan

Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

[sunting] Pendidikan umum

Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: sekolah dasarsekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). (SD),

[sunting] Pendidikan kejuruan

Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah sekolah menengah kejuruan (SMK).

[sunting] Pendidikan akademik

Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.

[sunting] Pendidikan profesi

Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional.

[sunting] Pendidikan vokasi

Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).

[sunting] Pendidikan keagamaan

Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan /atau menjadi ahli ilmu agama.

[sunting] Pendidikan khusus

Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk sekolah luar biasa/SLB).

[sunting] Tingkatan pendidikan di Indonesia

Kelas Usia
Taman kanak-kanak
Kelompok bermain 4
Kelompok A 5
Kelompok B 6
Sekolah dasar
Kelas 1 7
Kelas 2 8
Kelas 3 9
Kelas 4 10
Kelas 5 11
Kelas 6 12
Sekolah menengah pertama
Kelas 7 13
Kelas 8 14
Kelas 9 15
Sekolah menengah atas/kejuruan
Kelas 10 16
Kelas 11 17
Kelas 12 18
Akademi/Institut/Politeknik/Sekolah Tinggi/Universitas
Sarjana berbagai usia (selama kurang lebih 4 tahun)
Magister berbagai usia (selama kurang lebih 2 tahun)
Doktor berbagai usia (selama kurang lebih 2 tahun)